Opini  

Waspada Dibalik Pertumbuhan 5,61%

banner 120x600

Oleh: Samuel Silaen, Pengamat Kebijakan Publik

Pemerintah melakukan berbagai cara meluruskan arah ekonomi Indonesia. Betul, secara teknikal, IHSG masih rebound 1,22%, likuiditas pasar masih berjalan, belum ada tanda pembeli menghilang. Tapi sejarah krisis di Asia 1998, di Yunani 2010 dan di Argentina, mengajarkan bahwa krisis jarang mengumumkan dirinya. Namun datang seperti asap dulu, lalu api,  dan seluruh rumah terbakar.

Situasi ekonomi saat ini seperti menunjukkan asap sudah mengepul: repricing sudah berlangsung kuat. Tidak panik, tapi menunda kewaspadaan adalah bentuk lain dari bunuh diri politik. Yang mengganggu dari angka 5,61% adalah aroma business as usual-nya. Seolah-olah ekonomi dapat terus tumbuh dengan cara yang sama di tengah konstelasi global.

Suku bunga global masih tinggi, fragmentasi geopolitik kian tajam, perang dagang tidak kunjung usai. Dalam situasi begini, ekonomi seperti Indonesia, yang bergantung pada aliran modal asing untuk membiayai defisit kembar—current account dan fiskal—adalah ekonomi yang sangat rentan terhadap sudden stop.

Kita membutuhkan bukan sekadar pertumbuhan, tapi ketahanan struktur. Bukan sekadar peertumbuhan konsumsi yang digenjot oleh kredit dan diskon, tapi produktivitas yang naik karena transformasi.

Kebijakan ekonomi kita terlalu sering tersandera oleh logika jangka pendek: menjaga agar IHSG tidak longsor, menjaga agar pertumbuhan kuartalan tidak anjlok, dan menjaga agar sentimen investor tidak berbalik.

Semua itu penting, tetapi itu bukan fondasi. Fondasi adalah industrialisasi, hilirisasi yang tidak diskriminatif, pendidikan vokasi, dan pembangunan institusi pasar yang transparan. Tanpa itu, kita hanya akan terus menjadi penonton dalam drama pertumbuhan yang rapuh—tumbuh saat global murah likuiditas, jatuh saat global berbalik arah.

Para ekonom sering mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia bukan sekadar soal angka, melainkan soal kuasa. Siapa yang diuntungkan dengan nilai tukar yang rendah? Eksportir, terutama di sektor ekstraktif. Siapa yang dirugikan? Importir, produsen berbasis bahan baku impor, dan pada akhirnya konsumen kecil. Maka, kebijakan tidak pernah netral.

Ketika peta risiko menunjukkan bahwa penularan mulai terbentuk, pertanyaan kritisnya adalah: penularan ke siapa? Jika biaya penularan itu akan ditanggung oleh mereka yang paling tidak berpunya—melalui inflasi bahan pokok, melalui suku bunga kredit mikro yang naik—maka kita tidak sedang menuju krisis kepercayaan, melainkan krisis keadilan.

Para pengelola negara wajib membaca kondisi ekonomi saat ini dengan jujur dan tidak membuat masyarakat terlena. Pertumbuhan 5,61% adalah kemewahan. Tapi, jika jangkar struktural tidak segera diperkuat, jika kebijakan hanya menjadi permainan tambal-sulam antara menjaga rupiah dan merawat popularitas, maka kemewahan itu akan berubah menjadi mahal: mahal harganya, mahal konsekuensinya.

Maka, selagi masih dini dan baru, selagi sinyal pembeli menghilang belum muncul, inilah waktu yang tepat untuk bertindak, bukan untuk berpidato. Bank Indonesia harus menerima ruang politik untuk melakukan tugasnya tanpa dibebani kalender elektoral. Dan, Pemerintah harus berani mendefinisikan ulang prioritas fiskal, apakah beban program prioritas tetap menjadi gajah di ruang tamu, atau perlahan kita pindahkan? Dan kita, sebagai publik, harus berhenti menganggap pertumbuhan 5,61% sebagai bukti bahwa semuanya baik-baik saja. Karena dalam ekonomi-politik, tidak ada yang benar-benar baik-baik saja sampai kerentanan terakhir di peta itu benar-benar dimatikan.

Kita belum krisis. Tapi kita sudah berada di lorong kegelapan menuju ke sana terlihat pasti. Aroma asap sudah tercium. Pesta di lantai dua itu boleh berlanjut, asal kita tahu bahwa di bawah, pondasi mulai bergoyang. Dan sejarah tidak akan bertanya berapa pertumbuhan kita. Ia akan bertanya: apa yang kita lakukan ketika tanda-tanda itu sudah ada di depan mata?

Sense of crisis dari para pejabat itu yang tidak ada. Itu terlihat dengan pertumbuhan 5,61% para pejabat sudah sesumbar berhasil keluar dari kutukan pertumbuhan 5%. Sementara di halaman rumah rupiah terus kedodoran dan fiskal juga sedang tidak baik-baik saja. Apakah berkah pertumbuhan ekonomi ini dirasakan oleh kita?

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *