Opini, Umum  

Darwin Darmawan raih gelar Doktor Politik UI ke-150

banner 120x600

MAIGANews – Darwin Darmawan, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) meraih Doktor Ilmu Politik ke-151 dari FISIP Universitas Indonesia, Senin (18/5). Secara singkat temuan dalam penelitiannya mengungkap dua pola kepemimpinan berbasis kepedulian yakni, bersifat tegas-konfrontatif dan kepemimpinan adaptif.

Pengukuhan gelar itu usai menyelesaikan sidang terbuka senat akademi UI di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus FISIP UI, Depok. Sejumlah tokoh ikut menyaksikan sidang terbuka itu antara lain, Jacklevyn Fritz Manuputty, Ketua Umum PGI 2024-sekarang, Gomar Gultom, Ketua Umum PGI periode 2019-2024, Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda S. Gultom periode 2004-2009, Chris Kanter, Kadin Indonesia, dan Agustinus Terang Narang, Anggota DPD Kalimantan Tengah dan Gubernur Kalimantan Tengah 2005-2015.

Darwin mengangkat desertasi berjudul; Representasi Politik Perempuan Tionghoa Pasca Orde Baru: Kepemimpinan Tjhai Chui Mie (Walikota Singkawang 2017-2022 dan Me Hoa (Ketua DPRD Bangka Tengah 2019-2024).

Darwin menyampaikan studi tentang representasi politik perempuan Tionghoa di Indonesia selama ini cenderung menekankan kehadiran simbolik dalam lembaga politik. Sementara, agency politik serta cara menavigasi identitas yang beririsan antara gender dan etnis masih relatif kurang dieksplorasi.  Padahal, katanya, perempuan Tionghoa berada dalam posisi kerentanan ganda akibat subordinasi patriarkal dan stigmatisasi historis sebagai etnis minoritas.

Menurut dia, dalam kondisi demikian, representasi politik sering dipahami sebatas kehadiran deskriptif, bukan sebagai praktik substantif yang berakar pada pengalaman dan tindakan politik para aktor.

Dalam disertasi itu, Darwin menguraikan bagaimana politisi perempuan Tionghoa menegosiasikan identitas interseksionalnya dan membangun praktik representasi substantif dalam politik lokal Indonesia.

Kerentanan interseksional tidak hanya menjadi sumber hambatan struktural, tetapi juga dapat menjadi basis legitimasi moral yang membentuk praktik kepemimpinan yang berorientasi pada kepedulian terhadap kelompok rentan.

Untuk menjelaskan proses tersebut, penelitian ini mengintegrasikan teori representasi substantif (Pitkin 1967), interseksionalitas (Crenshaw 1989; Collins 2000), dan ethics of care (Gilligan 1982; Tronto 1993).

Darwin menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif terhadap dua pemimpin perempuan Tionghoa di tingkat lokal: Tjhai Chui Mie (Wali Kota Singkawang, 2017–2022) dan Me Hoa (Ketua DPRD Bangka Tengah, 2019–2024). Data diperoleh melalui wawancara mendalam, analisis dokumen kebijakan dan anggaran daerah, serta observasi praktik kepemimpinan lokal.

Temuan penelitian menunjukkan dua pola kepemimpinan berbasis kepedulian. Pertama, kepemimpinan yang bersifat tegas dan konfrontatif dalam menghadapi ketimpangan struktural melalui kebijakan yang berorientasi pada keadilan sosial. Kedua, kepemimpinan yang lebih adaptif melalui advokasi sosial, pembangunan relasi yang erat dengan konstituen, serta perlindungan terhadap kelompok rentan melalui pendekatan relasional dan negosiatif.

Secara teoretis, penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman marginalitas tidak hanya membatasi aktor politik minoritas, tetapi juga dapat membentuk orientasi kepemimpinan yang responsif dan inklusif dalam praktik representasi politik di tingkat lokal.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *