MAIGANews – Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas krisis kemanusiaan yang tidak kunjung berakhir di Papua. Sejumlah pemimpin aras gereja-gereja di Indonesia menyampaikan pernyataan sikap itu di Jakarta, Kamis (16/7).
Anggota FUKRI yang menyatakan sikap tersebut antara lain;
- Jacklevyn Frits Manuputty, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)
- Aloysius Budi Purnomo, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
- Eliver Radjagoekgoek, Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI)
- Ronny Mandang, Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII)
- Rendy Alexander Chuang, Persekutuan Baptis Indonesia (PBI)
- Kolonel Hosea Makagiantang, Gereja Bala Keselamatan Indonesia (GBK)
- Frend Frans, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
- Metrophanes Dedy Sutanto, Gereja Orthodox Indonesia (GOI)
Dalam pernyataan sikap FUKRI, Jacklevyn Frits Manuputty menyampaikan konflik bersenjata telah menimbulkan korban jiwa tanpa henti. “Baik dari kalangan orang aseli Papua, warga sipil non-Papua, aparat keamanan, maupun pihak-pihak lain yang terjebak dalam pusaran kekerasan,” katanya.
Dia menyampaikan perempuan, anak-anak, tokoh agama, tenaga kesehatan, guru, petani, dan masyarakat adat tetap menjadi kelompok yang paling rentan menanggung akibatnya.
Sejumlah peristiwa tragis yang kembali terjadi di Intan Jaya dan sejumlah wilayah konflik lainnya di Papua dalam beberapa bulan terakhir memperlihatkan bahwa krisis kemanusiaan di Papua bukan lagi persoalan incidental. Melainkan krisis struktural yang terus berulang tanpa penyelesaian yang bermartabat.
Berikut sejumlah poin dalam pernyataan sikap FUKRI;
- Menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam atas krisis kemanusiaan yang tidak kunjung berakhir di Tanah Papua.
- Mendesak pemerintah untuk mengevaluasi secara menyeluruh pendekatan keamanan yang selama ini diterapkan di Papua.
- Mendesak pemerintah untuk memberikan prioritas utama kepada penanganan krisis kemanusiaan dan para pengungsi internal (Internally Displaced Persons/IDPs).
- Menegaskan kembali bahwa dialog kemanusiaan merupakan jalan yang paling bermartabat untuk menyelesaikan persoalan Papua.
- Menyerukan kepada Presiden Republik Indonesia beserta seluruh pemangku kepentingan untuk menempatkan penyelamatan kehidupan manusia sebagai prioritas tertinggi dalam setiap kebijakan di Tanah Papua.
- Mengajak seluruh gereja di Indonesia untuk semakin memperkuat pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat Papua, khususnya bagi para korban kekerasan dan para pengungsi.
- Mendesak pemerintah agar memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi gereja untuk menjalankan panggilan kemanusiaannya tanpa rasa takut dan tanpa stigma.
















