MAIGANews – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mempercepat pengembangan lapangan migas sebagai strategi memperkuat ketahanan energi nasional di tengah volatilitas harga minyak.
Mengutip keterangan pers Senin (6/4), Mery Luciawaty, Direktur Pengembangan dan Produksi PHE menyampaikan hal itu pada Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026, Kuala Lumpur, Malaysia, pekan lalu.
Dia menyampaikan PHE mengelola 20 basin dengan total produksi sekitar 1 juta barel setara minyak per hari. “Ini berkontribusi 65% terhadap produksi minyak nasional dan 36% produksi gas nasional dari 27% wilayah kerja migas domestik,” katanya.
PHE, katanya, menghadapi beberapa tantangan pengembangan lapangan antara lain, decline rate minyak 24% dan decline rate gas 21%. Serta, asset integrity menjadi major challenge karena 65% asset PHE berusia di atas 30 tahun.
Sejalan dengan itu, tingginya biaya operasional karena produksi di PHE berada di late stage of development. Dalam peningkatan produksi itu, PHE menerapkan enhanced oil recovery (EOR) yaitu, steamflood yang perlu dukungan keandalan listrik. Serta, aktivitas chemical oil recovery yang butuh pembiayaan lebih tinggi dibandingkan conventional drilling.
Selain itu, komersialisasi lapangan gas stranded yang berada di remote area memerlukan teknologi seperti, GTL atau mini LNG guna mendongkrak keekonomian dari asset tersebut.
Strategi PHE
Dia menyampaikan strategi pengembangan migas antara lain, percepatan pematangan proyek untuk eksplorasi. Proyek eksplorasi yang melibatkan tim pengembangan sejak dini dalam menentukan rencana pengembangan. Termasuk, optimalisasi pengembangan lapangan marginal melalui pendekatan terintegrasi dan efisiensi biaya.
Selain itu, PHE menerapkan inovasi teknologi untuk pengembangan lapangan deepwater, migas nonkonvensional, chemical enhanced oil recovery (CEOR).
”Serta pengembangan ekosistem carbon capture, utilization and storage (CCUS) sebagai bagian strategi jangka panjang perusahaan,” katanya.
Di tingkat global, PHE memperkuat portofolio internasional. Melalui PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP), pengelola aset di Aljazair, Irak, dan Malaysia, serta pemilik saham mayoritas di Maurel & Prom di Afrika, Amerika, dan Eropa.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, PHE optimistis dapat meningkatkan kinerja operasional sekaligus mendukung target swasembada energi nasional.
“Dengan penguatan kapabilitas organisasi, kemitraan strategis, serta dukungan kebijakan fiskal yang kompetitif, PHE berkomitmen mengoptimalkan pengembangan migas nasional guna mendukung ketahanan energi Indonesia,” katanya.
Implementasi ESG
PHE akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Berkomitmen Zero Tolerance on Bribery dengan memastikan pencegahan atas fraud dan memastikan bersih dari penyuapan. Komitmen itu dengan implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) terstandardisasi ISO 37001:2016.
















