MAIGANews- Pemerintah memastikan kasus perusakan dan penutupan rumah ibadah tidak terulang kembali. Hal itu disampaikan Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden RI saat membuka Kongres Nasional V Asosiasi Pendeta Indonesia (API) di Tangerang, Banten, Kamis (8/10).
Wakil Presiden menyampaikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk etnis, agama, dan kepercayaan. “Saya mohon maaf bila masih terjadi kasus intoleransi,” katanya.
Menurut Gibran, pemerintah senantiasa melakukan koordinasi dengan aparat keamanan setempat terhadap kasus penutupan dan larangan beribadah umat beragama.
“Kami akan pastikan, kasus yang mengancam tidak akan terulang kembali,” katanya.
Dia menyampaikan bahwa negara harus hadir untuk peribadatan umat beragama, sesuai amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Tokoh agama yang memiliki peran sentral, katanya, agar melaporkan ke Lapor Mas Wapres bila ada tindakan intoleransi terhadap kegiatan ibadah.
“Mari jaga Indonesia bersama. Asosiasi Pendeta Indonesia (API) sebagai pembawa damai dan mitra pemerintah,” katanya.

Kongres Nasional V 2026 API mengangkat Tema “Dipilih, Dikuduskan, Diutus untuk memuliakan Tuhan”. Tema ini merujuk nats dalam Kitab 1 Petrus 2:9. Peserta kongres memenuhi kuorum kehadiran melebihi 50% dari 38 Provinsi dan pengurus cabang API di Kabupaten/Kota.
Harsanto Adi Soekamto, Ketua Umum API menyampaikan bahwa sambutan Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden RI dapat memberikan pencerahan ke peserta Kongres V API. “Usai kongres peserta mendapat pencetahaan dari Wapres dan para narasumber sehingga meningkatkan kapasitas melayani bangsa,” katanya.
Selain itu, katanya, anggota API semakin mengasihi Tuhan sehingga memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara.
Senada dengan itu, Estefanus Balaati, Sekretaris Jenderal API menyampaikan usai kongres nantinya API diharapkan semakin maju dan memberikan kontribusi lebih ke bangsa dan negara. “Anggota API juga turut membangun persatuan dan kedamaian di bangsa ini,” katanya.
Menurut dia, kehadiran Gibran Rakabuming Raka, Wapres RI memberikan kekuatan dan harapan adanya komunikasi dari pemerintah dalam menyerap aspirasi pendeta di Indonesia.
API, katanya, nantinya dapat menyumbang pemikiran yang dapat menjadi pedoman dan panduan dalam membangun harmonisasi di masyarakat dan langkah-langkah menghadapi aksi intoleransi di masyarakat.
















