MAIGANews – Meski penjualan turun, namun pendapatan PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) terkerek pada semester I 2026 berkait kenaikan harga di pasar global. Sementara itu, laba tahun berjalan sebesar Rp2,65 triliun, melonjak 218% dari Rp893,90 miliar.
Mengutip siaran pers, Selasa (1/9), Eko Prayitno, Sekretaris Perusahaan PTBA menyampaikan bahwa pendapatan perusahaan naik 8% menjadi Rp22,03 triliun di semester I 2026 dari periode serupa tahun lalu.
“Meskipun volume penjualan turun 2% secara tahunan, namun Newcastle Index naik 25% YoY dan ICI-3 naik 15% YoY, yang turut mendorong penguatan harga jual rata-rata yang tercatat naik 10% secara tahunan,” katanya.
Di semester I 2026, kontributor penjualan domestik tercatat sebesar 51%, sedangkan sisanya 49% dari ekspor. Lima negara tujuan ekspor terbesar antara lain; Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.
Beban Pokok Pendapatan dan Beban Operasional Beban pokok pendapatan terealisasi Rp17,78 triliun, melandai 2% secara tahunan. Penurunan ini seiring dengan penurunan volume operasional, misalnya, produksi batu bara turun 10% dan angkutan juga turun 6% secara tahunan.
Selain itu, dari sisi stripping ratio juga tercatat lebih rendah di angka 5,26x dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di angka 6,17x.
Sementara itu, konflik di Selat Hormuz yang terjadi pada akhir Februari 2026 berdampak pada peningkatan harga BBM/liter menjadi Rp19.503 per liter hingga 30 Juni 2026, naik kisaran 34% secara. Hal tersebut berimbas pada peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh perusahaan, utamanya kebutuhan jasa penambangan maupun angkutan kereta api.
Namun di tengah tantangan tersebut, biaya operasional perseroan tetap terjaga dengan program efisiensi yang tepat sasaran dan disiplin operasional secara berkelanjutan.
Di samping itu, beban operasional naik sebesar Rp184,84 miliar atau 13% dari periode yang sama sebelumnya. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh adanya kenaikan di komponen beban umum dan administrasi.
Penghasilan Keuangan, Biaya Keuangan, dan Bagian atas Laba Neto Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama Perusahaan membukukan penghasilan keuangan sebesar Rp108,58 miliar atau naik 6% secara tahunan, terutama disebabkan oleh kenaikan laba dari nilai tukar mata uang asing.
Biaya keuangan tercatat Rp98,99 miliar atau turun 25% secara tahunan seiring dengan penurunan beban bunga dari pinjaman bank.
Sedangkan bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama tercatat Rp438,30 miliar, naik signifikan dari realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp209,86 miliar.
















